02 May 2010

jalan muenchen menuju podium juara

Perburuan gelar sebagai tim sepakbola terbaik eropa mendekati akhir. Dua finalis akan saling berhadapan di Santiago Barnebeu. Internazionale Milano dan Bayern Muenchen. Inter yang selama ini selalu lempem tak punya taring di eropa, kali ini berhasil menghancurkan mimpi Barcelona menjuarai Liga Champions di rumah seteru abadinya Real Madrid. Tiga gol Ivica Olic menghancurkan Lyon dan membawa Muenchen menantang Inter. Siapa yang pantas menjadi juara?

Bicara pantas atau tidak jelas tergantung subjektivitas masing-masing personal. Suka atau tidak yang dibicarakan kali ini datang dari liga negara yang beberapa tahun terakhir tertutup gemerlapnya premiere league Inggris dan la liga Spanyol. Masing-masing tim memiliki syarat untuk menjadi yang terbaik. Dua pelatih yang menangani masing-masing telah merasakan manisnya merengkuh trofi Liga Champions. Louis van Gaal bersama Ajax Amsterdam dan "the special one" Jose Mourinho bersama FC Porto.


Jika penilaian juara mengacu pada performa, jelas saya akan mengatakan bahwa Inter Milan yang akan membawa pulang trofi ke tanah Italia. Patokannya yaitu penampilan dan lawan yang dihadapi Inter dalam perjalanannya menuju final. Lawan Inter pada perdelapan final CSKA Moskow memang bukan lawan sepadan Inter. Mereka pun maju dengan skor 1-0 baik tandang maupun kandang. Memasuki babak perempatfinal, karang terjal mulai menghadang. Namun waktu kemudian menjawab bahwa pasukan Jose Mourinho masih terlalu tangguh untuk Chelsea-nya Ancelotti. Tak tanggung-tanggung dua kali Ancelotti ditampar Mourinho 2-1 dan 1-0.

Terakhir mereka berhasil menghancurkan juara tahun lalu, Barcelona. Bagaimana Messi dan Xavi dibuat tertunduk dihadapan Jose. Ketika bermain di Milan, saya terperangah menyaksikan mentalitas dan kepercayaan diri Inter ketika menghadapi pemegang possesion football, Barcelona. Membalikkan keadaan dari tertinggal 0-1 dan menyarangkan 3 gol ke gawang Barcelona bukanlah hal yang mudah. Namun sekali lagi Jose Mourinho membuktikan kenapa dirinya disebut spesial. Begitupun saat gantian bertandang ke Nou Camp. Bermain dengan sepuluh orang, Mourinho menunjukkan kepada dunia taktik bertahan yang sangat sempurna. Kedisiplinan dan determinasi membuat Barcelona nyaris frustasi. Hanya satu gol yang dibuat Barcelona tidak mampu menghetikan laju Inter menuju final. Jose Mourinho menyebut bahwa inilah kekalahan yang terindah.

Lawan Inter adalah Muenchen. Meski memiliki sejarah baik di Liga Champions, perjalanan Muenchen menuju final tidak terlalu meyakinkan. Nyaris tidak lolos dari fase grup dan harus bertandang ke markas Juve (bukan jupe), Muenchen akhirnya lolos dengan menghancurkan tuan rumah 4-1. Pada perdelapan final, Muenchen berhasil mengatasi Fiorentina dan menang 2-1 dikandang. Kemenangan yang diprotes keras kubu Fiorentina karena penuh kontroversi. Muenchen akhirnya lolos setelah unggul agregat gol tandang setelah menyerah 3-2 di kandang Fiorentina.

Perempatfinal merupakan ujian Muenchen sesungguhnya. Disini yang menghadang adalah finalis musim lalu dan striker yang sangat mematikan, Manchester united bersama Wayne Rooney. Namun lagi-lagi Muenchen berhasil melewati hadangan MU dengan kondisi yang sama persis kala menghadapi Fiorentina. Di semifinal Muenchen berhasil menaklukkan Lyon dengan agregat 4-0 melalui penampilan fenomenal Ivica Olic yang mencatat hattrick atas namanya.

Seperti saya katakan diatas, jika mengacu pada penampilan, Inter yang dipimpin oleh Jose Mourinho lebih layak merengkuh trofi. Namun kemenangan tidak hanya ditentukan oleh performa. Ada faktor-faktor lain yang tidak bisa dijelaskan oleh akal namun seperti mempersilahkan tim yang memperoleh keuntungan untuk menjadi juara. Seperti tahun kemarin saat Barca menghadapi Chelsea pada semifinal Liga Champions. Berapa kali seharusnya Chelsea mendapat hadiah penalti namun tidak satupun diberikan wasit. Pada akhirnya Barca memperoleh gol di akhir-akhir pertandingan dan berhasil juara dengan mengalahkan Manchester United.

Apa yang dirasakan Muenchen lebih terasa lagi bila dibandingkan Barca tahun lalu. Mulai dari fase grup. Nyaris tidak lolos dan dituntut menang dikandang Juve, Bayern berhasil melakukannya. Skor 4-1 mengantar Bayern lolos padahal saat itu Juve hanya butuh hasil seri untuk lolos. Berlanjut ke fase knock out saat menghadapi Fiorentina. gol Miroslav Klose seharusnya tidak perlu ada karena Klose sudah terjebak pada posisi offside. Kubu Fiorentina bahkan mengatakan bahwa Klose offside sejauh lima meter! Namun hakim garis dan wasit memutuskan mengesahkan gol tersebut. Bayern terus melaju.

Dibabak perempatfinal kembali faktor non teknis menaungi Muenchen. Seperti membalas kekalahan di final Liga Champions 2009 atas Manchester United, Muenchen berhasil mengatasi MU saat Ivica Olic menjebol gawang MU di menit terakhir! Berlanjut di Old Trafford, Saat MU uunggul 3-1, satu pemain MU terkena kartu merah. Robben akhirnya berhasil menambah satu gol dan itu sudah cukup untuk mengantar Muenchen ke semifinal.

Dengan melihat kondisi diatas, maka Mourinho jelas harus berhati-hati menghadapi lawan ini. Jika tidak maka nasib Inter akan sama seperti MU. Sedikit saja kesalahan maka faktor-faktor non teknis akan membantu Muenchen merengkuh juara. Karena sekarang semua tergantung Mourinho. Apakah Mourinho dapat mengalahkan Muenchen beserta faktor-faktor non teknis itu?

Jika tidak maka saya yakin dan sangat yakin bahwa Bayen Muenchen yang akan menjadi juara.

2 comments: