29 May 2012

Jangan Begitu

Jangan begitu,
Aku tak kata cinta
Bukannya tak mau
Aku tak sanggup
Malu,
Melihat wajahmu bersemu

Jangan begitu,
Aku tak ucap sayang
Bukannya tak ingin
Gugup,
Melihat bibirmu mengatup

Jangan begitu,
Aku tak bilang suka
Bukan tak hendak
Gemetar,
Melihat matamu menghujam

Panas terik begitu menyengat
Membuat pipimu merah
Kumaki diri dalam hati betapa bodohnya
Kau tepis
Senyum mengembang, masih dengan pipi yang merah
Tidak, katamu, aku senang


Aku terpaku
Membeku kaku
Hingga puluhan tahun berlalu


Cinta kurasa
Akan terus begitu

The Eighties!

Sumber : Facebook

25 May 2012

pembunuh berwajah kekanakan

Hari masih begitu muda. Bumi benderang dibalut hamparan cahaya mentari dhuha. Panasnya tidak begitu menyengat namun tak urung menyebabkan tetesan keringat. Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagian lagi terangnya menelusup melalui sela-sela dedaunan. Serupa lorong cahaya yang jatuh menuju permukaan bumi. Lalu hinggap menyelimut rerumputan luas di Lapangan Utama SMA Lapan Palembang.
Kondisi lapangan utama SMA Lapan saat ini disesaki begitu banyak murid baru. Mereka membentuk lingkaran masing-masing sesuai dengan kelompok kelas yang telah dibagi sebelumnya. Namun, walau termasuk siswa baru, aku tak ada di lingkaran itu. Aku berdiri terengah-engah di sisi lain lapangan rumput ini. Nafasku menderu seakan berpacu untuk keluar lebih dulu. Bulir-bulir besar keringat mengalir deras sebelum menetes jatuh. Jantungku berdegup serupa derap sepatu boots tentara di atas lantai marmer. Aku nyaris takjub ketika kupikir aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. Namun tak ada waktu untuk takjub, tak ada waktu untuk berpikir. Aku harus waspada dan kembali melaju, kalau tidak ia akan segera menangkapku. Wanita sinting itu.

28 May 2011

tentu saja dalam hati

Nyaris 3 bulan. Itu waktu yang saya habiskan di Palembang. Sejak saya kuliah, baru kali ini saya punya waktu begitu lama disana. Bener-bener ga ada kerjaan sama sekali. Ibu saya bilang gini “Alangke lemak kau ini nak, Bini ado, anak punyo, duet ngalir, begawe idak. Alhamdulillah. Memang rejeki ga kemana. Di Palembang terus. Sampe bosan mau ngapain. Tapi namanya di Palembang ya nikmat. Seperti kata pepatah lama, hujan emas di negeri sendiri masih mendingan di banding hujan batu di negeri orang. Tentu saja. Mungkin itu pendapat anda. Tapi saya tidak. Coba kalo bener kejadian. Hujan emas. Gede-gede lagi. Berapa rumah hancur? Berapa banyak yang terluka? Mau ke rumah sakit juga udah luluh lantah. Makanya mending hujan air. Apalagi kalo kemarau. Tambah lagi kalo hujan di malam hari. Dingin. Ibadah jadi tambah semangat. Eh, emas itu logam berat kan?

22 September 2010

rakyat yang punya mobil

Kemarin, dari siang sampe sore hujan. Awalnya lumayan deras. Lama kelamaan ga begitu. Hanya ga berenti. Terus saja hujan sampe menjelang maghrib. Alhamdulillah. Palembang jadi lumayan sejuk.

Karena hujan ga berenti. Saya dimintain tolong sama ayuk ipar saya. Menjemput bak pulang kerja. Bapaknya ayuk ipar saya. Juga orang tua istri saya. Yang otomatis jadi orang tua saya juga. Sedikit kagum sama bak. Lumayan banyak sih. Di usianya yang mungkin sudah 70an lebih, beliau masih sanggup kerja. 8 jam. Setiap hari. Tanpa libur. Termasuk sabtu dan minggu. Bahkan ketika lebaran pun masih sempat datang ke tempat kerja. Meski hanya sebentar. Tidak seperti hari biasanya.

19 September 2010

demigod berbatov

Ada yang mengatakan sedikit berlebihan. Terutama pansnya Liverpool. Tapi mohon maaf. Saya sukanya MU. Jadi tak apalah. Dan layaknya perseus yang menghancurkan kraken. Maka itulah yang dilakukan Berbatov. Sendirian meluluhlantakkan Liverpool. Liverpool bukannya tanpa perlawanan. Dua gol dari dua bola mati oleh sang kapten Steven Gerrard hampir saja mengulang mimpi buruk MU ketika melawan Everton. Namun hattrick Berbatov mengamankan 3 poin MU.

15 September 2010

pistol lebaran bandit semuntul

Bop kalu besak gek nak jadi apo...?
Bandit Semuntul.

Itulah dulu cita-cita saat saya kecil. Ketika banyak anak-anak lain yang ingin menjadi pilot, dokter, atau anak-anak jaman sekarang yang kepingin jadi artis. Yang sepertinya sudah biasa bercerai. Padahal jelas-jelas sesuatu yang dibenci Allah. Meski itu dihalalkan. Tapi kelihatannya tanggapan masyarakat juga biasa saja. Tidak seperti ketika menanggapi aksi poligami. Padahal Allah tidak membenci poligami. Tapi tanggapan masyarakat sepertinya itu adalah sesuatu yang kejam. Oh dunia memang sudah tidak menempatkan sesuatu pada kedudukannya. Sudah ah nanti saya disangka kepingin poligami. hihihihi... Balik ke cita-cita itu tadi. Jawaban saya cukup sederhana. Bandit Semuntul. Tidak kurang, tidak lebih.

01 September 2010

hening

hening,,,
hari-hari yang kulalui tanpa tawamu
tawa yang biasanya karena aku
atau setidaknya menurutku
hei,,, jangan mentertawakan aku
karena itu kamu
satu-satunya hati tempat aku menitipkan raga
atas nama Allah aku melabuhkan cinta
namun saat ini aku menggenggam rindu
seindah bola mata ketika engkau menatapku
sementara aku simpan
dan akan aku kembalikan padamu
utuh
karena aku tau
kamu akan membalas
lebih dari yang bisa aku berikan padamu

Beberapa waktu yang lalu saya nonton tipi. abis magrib. ppt 4. pas iklan, saluran saya ganti-ganti. pengen liat acara lain. mentok di saluran yang nayangin KCB persi sinetron. Biasanya saya lewatin juga. Tapi kemudian saya pantengin lebih lama. Soalnya pas di adegan saat ustadz Ilyas mau ngebacain puisinya Husna. Jadi pengen liat. Secara dah lama juga ga bikin syair.

Ternyata puisinya indah. Menurut saya. Jadilah saya termotivasi buat bikin syair. lagi. Kondisi juga sedang memungkinkan. Sedang jauh dari istri. Saya biasanya cuma bikin syair kalo sedang ada rindu. Dihati. Kalau tidak ada rindu saya bukan ga mau. Tapi ga bisa. Jadilah syair diatas. Yah tolong jangan mual ya, apalagi meneteskan air mata.




hehehehehehe....

11 July 2010

tak ada jose mourinho di piala dunia

Oh jelas saja saya bosan. Ketika media membicarakan mirip artis. Terus-terrusan. Oh iya saya bosan. Ketika media membicarakan Gayus Tambunan. Oh iya saya bosan. Saat media membicarakan bobroknya hukum. Tidak ada berita baik bagi negara kita. Memang sudah parah. Butuh orang dengan komitmen luar biasa mungkin. Merubah bobroknya negara. Atau mungkin hukuman mati. Bagi predator uang rakyat. Tanpa kecuali. Seperti di RRC. Tapi saya tidak menyarankan itu. Karena yang memiliki hak atas nyawa manusia hanya Sang Pencipta Ruh. Bukan kita. Mungkin dipotong tangan saja. Saya kira itu sudah cukup untuk memberi efek jera. Hidup dengan membawa hukuman fisik sekaligus moral. Bukan cuma mati terus habis cerita. Untungnya ada piala dunia. Jadi marilah kali ini kita fokus membicarakan piala dunia saja. Jadi saya pun harus merubah gaya tulisan saya. Ini hanya sekedar ulasan. Untuk final Piala Dunia kali ini. Perubahan dimulai.

Pagelaran World Cup 2010 akan segera berakhir. Dunia tidak lama lagi akan memiliki raja baru sepakbola. Entah Spanyol atau Belanda keduanya tidak memiliki riwayat sebagai juara piala dunia. Tentu saja setelah melewati berbagai ujian berat sebelumnya.

02 June 2010

dempo, 10 tahun lalu

Ini cerita sudah lama. Sekitar 9-10 tahun lalu. Terinspirasi catatan teman saya, Ayas. Pendakian gunung dempo. Mencoba menggali lagi hal-hal yang bisa saya ingat. Itu kalo ga salah masih kelas 2 SMA. Saya masih imut-imutnya. Masih banyak pans. Dari guru sampe adek kelas. Bahkan kakak kelas juga. Dicubit-cubit sampe merah-merah badan saya. Sekarang sih masih sama. Tetep banyak pans. Bedanya dulu dan sekarang cuma dicubit sama ditabok.


Kalo ga salah waktu itu mau perpisahan kelas. Dari kelas dua menuju kelas tiga. Saya lupa ini ide siapa. Tau-tau anak-anak pada ngajakin ke dempo. Hayo dah. Ada saya, hasan, ade, feri, rayan, maruli, dan fauzi. Yang susah tinggal minta izin sama orang tua. Maklumlah kelas dua SMA masih rada susah kalo mau minta izin naik gunung. Akhirnya saya di izinkan juga. Tapi saya bilang ke pagaralam dan tidak menyinggung dempo sama sekali. Saya tidak bohong, tapi juga tidak jujur. Ah,,, mudah-mudahan Faaiz dan Fariha tidak meniru saya. Orang tua percaya karena saya memang dikenal jujur oleh orang tua. Pernah ada pengalaman saya ngembaliin ongkos yang dikasih orang tua ke saya. Hanya karena saya dikasih lagi ongkos sama kakek saya. Itu cerita ibu saya. Ah betapa saya kangen pada sifat saya yang seperti itu. Meski saya tidak pernah menyadarinya.