28 May 2010

kamis ini ga biasa

Kelihatannya seperti hari kamis. Memang hari kamis. Kelihatannya seperti kamis biasanya. Memang iya. Hanya aktivitas yang saya lakukan tidak sama. Tidak seperti kamis biasanya. Saya seharian dikampus. Kalo biasanya sih tidak. Ada jeda saya pulang. Biasanya habis mata kuliah pertama. Akuntansi Keuangan 2. Saya suka ibu dosen. Mudah dipahami. Nilainya enak. Ujian juga tidak menjebak. Cuma agak sedikit sensitif. Tipikal konservatif. Tidak suka dengan kelakuan anak muda. Yang memang kadang-kadang kurang ajar. Saya suka.

Selesai kuliah AK2 jam 9.30. Nyambung kuliah jam 1.30. Mata kuliah Manajemen Strategik. Bapak dosen saya juga suka.  Ga neko-neko. Motivator ulung. Belajar ga harus di kelas. Kehidupan adalah universitas terbesar yang pernah ada. Saya suka kalimat ini. Bapak dosen yang bilang. Sekilas mirip Harrison Ford. Bahwa hidup itu bukan hanya untuk memenuhi keinginan lima kuda liar. Saya dan teman-teman tertawa. Cuma masih lama. Mmasih 4 jam lagi. Kalo biasanya saya pulang nebeng uje. Karena uje pulang kampung, jadilah saya terkatung-katung di kampus. Ada kepelentingan yang mendelesak. Itu kata uje, bukan kata saya. Mana ngantuk sangat. Akibat jualan cabe merah keriting. Bukan di pasar tapi di bursa saham. Untungnya cuma ngegame. Mata pelajaran Manajemen Investasi. Kalo beneran takut ah. Mayoritas ulama bilang haram. Ga mungkin saya membantah. Sehebat apa ilmu saya.


Dani ngajakin makan. Hayo dah. Ke kantin samping masjid. Nasi lengko ditambah gorengan empat. Tempe dua bakwan dua. Plus air mineral satu. "Empat ribu lima ratus", kata abangnya. Saya bayar. Setelah makan Dani ngajakin ke warnet. Saya ngantuk, malas. Saya pilih ke masjid. Pengen istirahat. Akhirnya ketiduran. Bangun-bangun pas mau azan zuhur. Selesai zuhur, masuk kelas. Bapaknya cuma masuk sebentar. Ga bisa lama-lama katanya. Presentasi kelompok sekitar 15 menit. Trus disambung penjelasan Bapak dosen. Mengenai kehidupan dan lima kuda liar didalamnya.

Kuliah selanjutnya mata pelajaran Manajemen Resiko. Dari jam 4 sampe jam 8 malam. Dua kali pertemuan. Ngegantiin hari yang bapak dosen ga masuk. Huaaa....hhh. Keren ya. Hampir pecah saya punya kepala. Itu hanya hiperbola. Mana harus presentasi lagi. Saya ga siap. Materinya mengenai resiko manajemen SDM pada bank syariah. Saya yang jadi presenter. Menggunakan bahasa inggris. Bukan buat gaya-gayaan. Bukan pula tak cinta Indonesia. Tapi murni keinginan bapaknya. Untuk semua kelompok. Dan kali ini saya mengecewakan rakyat. Maaf ya teman-teman, saya memang belum memiliki persiapan yang cukup.

Selesai presentasi, tidak ada anak yang bertanya. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya. Dan tentu saja saya salah. Ada sekitar tujuh anak yang mengacungkan tangan. Saya kemudian sadar sesuatu. Sesaat setelah saya melihat begitu banyak tangan teracung. Mereka telah mendapatkan mata kuliah akuntansi syariah! Mampuslah kita.

Untungnya kelompok kita punya Silviana. Anak reguler. Keliatannya dia sudah mendapatkan mata kuliah akuntansi syariah. Semua pertanyaan dijawab dengan lugas. Juga tegas. Ada Dani juga, Dimas, dan Attur. Aman dah. Saya pengen ngejawab juga. Cuma bingung mau ngomongin apa. Akhirnya gw paling terakhir mengambil suara. Tapi tidak dengan nada.

"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan", baru sampai disini teman-teman udah pada ketawa. Semuanya. Saya menjerit, "apa salah saya!!", dalam hati tentu saja. Saya pun ikut tertawa. Meski ga pernah tau saya tertawa untuk apa.

Saya ulangi kalimat saya seperti ini,
"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan terkait begitu maraknya bermunculan Bank Syariah akhir-akhir ini padahal SDM yang ada belum begitu mendukung. Dalam perspektif hukum Islam, ada yang dinamakan memilih diantara dua hal meskipun keduanya jelek namun memiliki mudhorat paling kecil. Dalam hal ini Bank Konvensional dan Bank Syariah. Secara jelas dalam sudut pandang Islam, riba yang dijalankan oleh Bank Konvensional itu hukumnya haram. Seperti yang telah dijelaskan oleh otoritas yang memang berhak untuk itu, MUI. Sebaliknya dengan Bank Syariah. Meski ada sebagian yang mengatakan seperti "srigala berbulu domba" karena dalam penerapannya masih mengikuti akuntansi konvensional terkait belum siapnya SDM dengan background pendidikan syariah. Namun jika umat Islam harus memilih dalam koridor hukum Islam, Bank Syariah adalah pilihan yang memiliki mudhorat terkecil, jika bukan yang terbaik. Yang kedua adalah niat. Bahwa segal amal itu dimulai dari niat. Umat Islam ingin menghindari riba, karena itu mereka memilih bank Syariah. Itulah niat yang dinilai dari amaliah manusia. Dua hal inilah yang saya kira membuat perbankan syariah masih memiliki pangsa pasar yang cukup bagus sehingga meski SDM belum begitu banyak tersedia, banyak perbankan di Indonesia menjadikan prinsip syariah sebagai bagian dari layanan yang diberikan."

Seandainya kalimat saya tadi seperti itu. Sayangnya tulisan saya masih terlihat lebih baik dari kalimat yang saya sampaikan. Tapi paling tidak maksud saya tersampaikan. Trus Bapaknya bilang, "Keliatannya kamu lulusan pesantren AA' Gym ya?" Saya dan teman-teman tertawa. Ini tuh mata kuliah manajemen resiko, bukan pendidikan agama. Saya telat nyadar. Jawaban saya tadi ga ada hubungannya. Ya gapapalah. Saya kemudian berkata, "Tidak pak, Bukan Aa' Gym tapi Uje", sambil cegar cengir.

Selesai sudah hari ini. Rasanya saya cukup rindu dengan Fariha. Tadi pas saya pergi kuliah Fariha belum bangun. Saya sampe rumah jam 8 kurang. Kurangnya ga banyak. Begitu saya pulang, Fariha langsung minta gendong. Seharian ga  ngegendong Fariha. Tubuhnya tambah berat.

Doakan Buya ya nak. Agar selalu memiliki kerinduan yang sama. Kepadamu, dan kepada adikmu, terutama kepada wanita yang kau memanggilnya umi. Dan buya memanggilnya Sayang. Pun terkadang Cinta.

4 comments:

  1. Sepertinya hari2 mu penuh warna ya. Sprt kata Afgan.. 7 hr dlm sminggu hdp penuh warna... Yak terusin 'ndiri. he he he

    Anyway, sharing dong ap rasanya sekolah. Share d sharing is fun ya. Butuh input neh

    Eh trims sdh pasang link Sharing is Fun. Ntar link-mu tak pasang jg. Tp g' mlm ini. PR ku akeh tenan..

    Salam kreatifitas

    ReplyDelete
  2. penuh warna bukan karena begitu saja tersedia, ibu. saya sendiri yang berusaha mewarnai. karena kebahagiaan bagi saya tidak datang dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  3. deep yudha5:09 PM

    hmmm betul tuh memang seharusnya kita mewarnai hidup dan kehidupan kita agar lebih berarti dan bermakna, karena kita yakin Sang Pencipta punya maksud tersendiri dalam penciptaanNya akan kita.Salam kenal...berkunjunglah se-kali2 dan diskusi di my simple blog...http://deepyudha.blogspot.com/.Syukron...

    ReplyDelete
  4. deepyudha@iya makasih, salam kenal. insya Allah segera kesana.

    ReplyDelete