Membicarakan mengenai tulisan yang kemudian di alihkan ke layar lebar tidak begitu berkesan bagi saya. Apapun jenis tulisan itu baik novel, cerpen, cerbung, dan lain sebagainya. Film menghancurkan imajinasi yang susah payah saya reka pada sisi kanan otak saya. Saya ingat ketika pertama kali saya membaca Harry Potter. Imajinasi saya bergerak liar membayangkan berbagai macam hal aneh pada novel itu. Ada Hogwarts, Topi Ajaib yang berbicara, Pedang Gryffindor, dan lain sebagainya. Juga berbagai fisik karakter yang tertanam di jaringan sel kelabu saya mengenai tokoh-tokohnya. Harry Potter, Ron, Hermione, Dumbledore, Hagrid, Mad-Eye Moody dan bahkan Malfoy.
Namun semua imajinasi tadi hancur lebur ketika pertama kali saya menonton film Harry Potter. Sulit bagi saya membayangkan kembali tokoh dan setting yang saya ciptakan saat yang teringat di benak saya adalah setting dan tokoh pemeran Harry Potter di tipi. Bukan berarti karya yang mereka hasilkan jelek dan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, tidak seperti itu. Saya selalu menghargai hasil karya orang lain dan tidak pernah menganggap sepele akan hal tersebut. Yang menjadi masalah bagi saya adalah hilangnya kenikmatan berimajinasi karena semuanya sudah ada di pelupuk mata dan otak secara otomatis merekam semua tanpa memberi ruang bagi sedikit imajinasi untuk berkreasi.
Namun semua imajinasi tadi hancur lebur ketika pertama kali saya menonton film Harry Potter. Sulit bagi saya membayangkan kembali tokoh dan setting yang saya ciptakan saat yang teringat di benak saya adalah setting dan tokoh pemeran Harry Potter di tipi. Bukan berarti karya yang mereka hasilkan jelek dan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, tidak seperti itu. Saya selalu menghargai hasil karya orang lain dan tidak pernah menganggap sepele akan hal tersebut. Yang menjadi masalah bagi saya adalah hilangnya kenikmatan berimajinasi karena semuanya sudah ada di pelupuk mata dan otak secara otomatis merekam semua tanpa memberi ruang bagi sedikit imajinasi untuk berkreasi.