Hari masih begitu muda. Bumi benderang dibalut hamparan cahaya mentari dhuha. Panasnya tidak begitu menyengat namun tak urung menyebabkan tetesan keringat. Sebagian terangnya diserap hijau dedaunan sebagai katalisator mekanisme fotosintesa. Menghasilkan oksigen bagi seluruh mahluk jagat raya. Disediakan secara cuma-cuma, sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagian lagi terangnya menelusup melalui sela-sela dedaunan. Serupa lorong cahaya yang jatuh menuju permukaan bumi. Lalu hinggap menyelimut rerumputan luas di Lapangan Utama SMA Lapan Palembang.
Kondisi lapangan utama SMA Lapan saat ini disesaki begitu banyak murid baru. Mereka membentuk lingkaran masing-masing sesuai dengan kelompok kelas yang telah dibagi sebelumnya. Namun, walau termasuk siswa baru, aku tak ada di lingkaran itu. Aku berdiri terengah-engah di sisi lain lapangan rumput ini. Nafasku menderu seakan berpacu untuk keluar lebih dulu. Bulir-bulir besar keringat mengalir deras sebelum menetes jatuh. Jantungku berdegup serupa derap sepatu boots tentara di atas lantai marmer. Aku nyaris takjub ketika kupikir aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. Namun tak ada waktu untuk takjub, tak ada waktu untuk berpikir. Aku harus waspada dan kembali melaju, kalau tidak ia akan segera menangkapku. Wanita sinting itu.