19 September 2010
demigod berbatov
11 July 2010
tak ada jose mourinho di piala dunia
Pagelaran World Cup 2010 akan segera berakhir. Dunia tidak lama lagi akan memiliki raja baru sepakbola. Entah Spanyol atau Belanda keduanya tidak memiliki riwayat sebagai juara piala dunia. Tentu saja setelah melewati berbagai ujian berat sebelumnya.
02 May 2010
jalan muenchen menuju podium juara
Bicara pantas atau tidak jelas tergantung subjektivitas masing-masing personal. Suka atau tidak yang dibicarakan kali ini datang dari liga negara yang beberapa tahun terakhir tertutup gemerlapnya premiere league Inggris dan la liga Spanyol. Masing-masing tim memiliki syarat untuk menjadi yang terbaik. Dua pelatih yang menangani masing-masing telah merasakan manisnya merengkuh trofi Liga Champions. Louis van Gaal bersama Ajax Amsterdam dan "the special one" Jose Mourinho bersama FC Porto.
27 April 2010
MU (akan selalu) butuh Hargreaves
Saya mungkin tidak akan terlalu kecewa seandainya MU memang bermain dibawah form.Namun penampilan babak pertama MU saat itu adalah performa juara. Darron Gibson yang sedang menapaki jalan Paul Scholes. Nani yang bermain dengan visi dan kecepatan dengan tehnik mengagumkan. Valencia yang assist-assist nya semakin terasah. Bahkan Rafael Da Silva bermain menakjubkan saat itu, sebelum akhirnya terkena kartu merah. Mungkin satu-satunya kekurangan MU saat itu dan sayangnya sangat fatal, adalah ketiadaan Owen Hargreaves.
18 April 2010
milan - kaka = nothing!
28 May 2009
Menyikapi Kekalahan Manchester United : MU Butuh Hargreaves
Final Liga Champions musim 2008/2009 berakhir dengan kekalahan Manchester United 0-2 di tangan Barca. Ada satu persamaan MU sekarang dengan MU 2 tahun lalu saat takluk di semifinal kontra AC MIlan. Ketiadaan holding midfielder. Ketika dulu gw menganalisis kekalahan MU di Friendster Blog (sialnya fs blog gw ilang), penyebab rapuhnya lini belakang MU adalah rusaknya lini tengah karena kurangnya keseimbangan. Keseimbangan yang biasanya tercipta berkat adanya pekerja kotor lini tengah. Posisi yang dengan sempurna pernah diisi oleh seorang legenda Manchester United, Roy Maurice Keane. Memang masih ada Michael Carrick yang bisa berperan sebagai jangkar, namun Carrick lebih cocok ditugaskan sebagai midfielder murni bukan defensive midfielder.
15 April 2009
Ada Surga di Stamford Bridge
Kita masih belum bisa memastikan apakah di surga ada sepak bola, namun yang jelas gw baru saja menjadi saksi salah satu keindahan surga terhampar di lapangan sepakbola Stamford Bridge saat menyaksikan pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions antara Chelsea vs Liverpool.
Skor akhir 4-4 hanya sekedar representasi bagaimana dahsyatnya duel kedua tim sepanjang laga. Skill yang memikat, insting mencetak gol, ketepatan membaca permainan, sampai kejeniusan pelatih tersaji disini. Tidak ada yang kalah. Hanya keberuntungan di leg 1 yang memastikan langkah Chelsea ke perempatfinal.
Turun tanpa kedua kapten tim masing-masing ternyata tidak mengurangi intensitas serangan kedua tim. Dua gol yang dicetak oleh Fabio Aurelio dan penalti Xabi Alonso di babak pertama sempat membuat Guus Hiddink ketar ketir. Bagaimana tidak, Chelsea tidak berhasil mengkreasikan peluang berarti di babak pertama ini. Statistik mencatat penguasaan bola Chelsea hanya 41% berbanding dengan Liverpool yang menguasai 59%.
Entah apa yang dikatakan Guus Hiddink untuk memotivasi anak asuhnya, namun di babak kedua yang terjadi adalah surga. Satu gol sensasional membuktikan naluri seorang Didier Drogba. Lalu kemudian tendangan keras Alex menghujam gawang Reina. 2-2. Lalu disusul sebuah gol dari Lampard seperti akan membunuh Liverpool.
Ternyata drama tidak berhenti sampai disitu. Sepasang gol kembali dihadirkan Liverpool lewat Lucas dan Kuyt. Liverpool hanya butuh satu gol lagi untuk lolos. Namun disinilah letak perbedaan Liverpool dan Chelsea. Sehebat apapun tim, mereka harus memiliki seorang pemain yang menjadi nyawa tim. Di Stamford Bridge, kehilangan Gerrard adalah neraka bagi Liverpool. Tapi Chelsea tidak kehilangan itu seutuhnya. John Terry merupakan tembok pertahanan sekaligus Kapten Chelsea. Kehilangan John Terry berarti kehilangan batu karang keras untuk menahan gempuran Liverpool. terbukti dengan 4 gol yang bersarang di gawang Cech. Tapi di Chelsea, nyawa tim adalah Frank Lampard bukan John Terry. Di Chelsea menumpuk pemain tengah dengan kualitas world class. sebut saja Deco, Ballack, atau bahkan Essien tapi peran Lampard takkan tergantikan. Sejelek apapun permainannnya, Lampard adalah nyawa, Lampard adalah ruh, bahkan Lampard adalah Chelsea itu sendiri, dan Guus Hiddink sadar benar itu. Satu gol akhir yang dibuat Frank Lampard menutup pertandingan sekaligus menyadarkan Liverpool untuk kembali melihat kenyataan. Gol tersebut juga mengejawantahkan Lampard sebagai nyawa Chelsea.
Skor akhir 4-4 dengan agregat 7-5 membawa Chelsea menghempaskan Liverpool.
Ini adalah salah satu partai terbaik atau bahkan yang terbaik tahun ini. Gw, Bapet, dan Paijo, serta 1 orang figuran (sori pet, gw lupa nama temen lo) beruntung menikmati pertandingan ini. Tidak ada yang kalah disini. Pertandingan yang menarik selalu menghadirkan pemenang tapi bukan Chelsea atau Liverpool melainkan sepakbola itu sendiri.
24 February 2009
Saat Koboi harus menghadapi Sherrif : Preview Pertandingan Inter vs MU
Liga Champions tahun ini akan menghadirkan sajian menarik dan berkelas. Terutama pada dua pertandingan yang mempertemukan 2 tim dengan kelas yang ditakdirkan untuk menjadi juara. Liverpool vs Real Madrid dan tentu saja Manchester United vs Inter Milan.
Hanya membicarakan pertemuan Inter Milan vs Manchester United akan terasa hambar sehambar sayur kurang terasi karena sudah jelas MU lah yang akan keluar sebagai pemenang namun yang menjadikan partai ini susah ditebak adalah Jose Mourinho sebagai otak yang membuat Inter Milan terlalu berbahaya untuk sekedar diberikan peluang
Masih ingat dalam ingatan ketika Manchester United yang bestatus unggulan berhasil dipecundangi tim yang sama sekali tidak diunggulkan di perempatfinal Liga Champion 2003/2004. Ketika jari tengah Jose Mourinho mengacung ke supporter Manchester United yang masih tidak bisa menerima kegagalan di tangan tim semenjana. Sejarah kemudian mencatat bahwa tim semenjana itu akhirnya menjadi juara Liga Champions 2003/2004 dengan Jose Mourinho dibelakangnya, FC Porto.
Jose Mourinho adalah satu dari sedikit pelatih berkapasitas world class di jagad persepakbolaan dunia. Mungkin hanya Sir Alex Ferguson pelatih yang kualitasnya sedikit lebih baik dibanding Jose Mourinho itupun karena pengalaman yang dimiliki Sir Alex. Lebih dari itu, tidak ada yang bisa menebak mana yang lebih unggul antara Sir Alex vs Mourinho.
Jose Mourinho adalah seorang motivator. Pembangkit semangat dengan cara-cara yang hanya bisa kita temukan pada pilem-pilem holiwut. Masih membekas saat itu ketika Chelsea tidak mampu meraih kemenangan saat pertandingan liga terakhir musim 2006/2007 dan gelar juara akhirnya diraih Manchester United. Ketika para pemain tak dapat menutupi kesedihan. John Terry sebagai kapten tertunduk lesu dan kecewa kehabisan napas, gagal menghadirkan kemenangan. Disaat pemain seharusnya mengutuk ketidak mampuan mereka meraih keunggulan atas lawan. Disaat seharusnya supporter menangisi kegagalan pemain didepan mereka. Tapi apa yang terjadi?? Sekonyong-konyong Jose Mourinho masuk ke lapangan menepuk pundak Terry, memberikan semangat. Mendatangi seluruh pemain Chelsea di lapangan. Membesarkan hati. Lalu datang ke bangku penonton, memberikan bahasa tubuh dengan menunjuk-nunjuk pemain dan memberikan tepuk tangan. Mengajak penonton untuk meng-apresiasi apa yang telah pemain lakukan demi mereka para suporter. Dan ajaib ribuan penonton yang memadati Stamford bridge seperti tersihir. Bunyi tepuk tangan mulai terdengar sedikit, lalu sedikit, dan akhirnya membahana di seisi stadion. Terlihat supporter begitu bangga dengan apa yang telah pemain lakukan. Bahkan tidak sedikit yang mengangguk-anggukkan kepala sembari bertepuk tangan sekeras mungkin. Seakan berfikir bahwa inilah yang seharusnya mereka lakukan. Bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Bahwa masih ada kebanggaan yang dapat mereka temukan pada pemain mereka. Dan begitu pun pemain. Mereka yang semula tertunduk lesu kembali menegakkan kepala. Bahwa ini bukanlah kegagalan. Bahwa ini hanyalah sukses yang tertunda. Bahwa mereka, meski telah berjuang hebat namun tetap harus berusaha lebih keras untuk menjadi yang terbaik. Dan hanya satu orang yang mampu menyadarkan mereka akan hal itu. Satu orang yang terlihat berdiri begitu puas memandangi atmosfer Stamford bridge. Satu orang Jose Mario dos Santos Mourinho Felix.
Keberadaan Mourinho selama 3 musim setengah membesut Chelsea memberikan suasana baru di premiership. 2 kali Jose mengangkangi Fergie dengan merajai premiership berturut-turut. Komentar-komentar yang jenius tanpa mengindahkan kaidah rasa alias pedas ditelinga sering terdengar oleh lawan Mourinho tanpa tedeng aling-aling.
Arogansi yang sering diperlihatkan justru menjadikan Mourinho semakin percaya diri akan kemampuannya. Seorang hebat yang sadar betul akan kehebatannya. Dan itu adalah suatu tanda bahaya bagi lawan. Karena sumber utama kehebatan adalah bakat serta arogansi (baca : kepercayaan diri). Dan Mourinho (layaknya Cristiano Ronalo yang menjadi pemain terbaik eropa) memiliki keduanya.
Dan kembali takdir mempertemukan Mourinho dengan Sir Alex Ferguson. Sir Alex Ferguson bukan hanya seorang manajer Manchester United. Dalam 2 dekade terakhir, dia adalah Manchester United itu sendiri. Seorang dedengkot para setan Old Trafford. Ditangan Ferguson, permainan menyerang bukanlah sekedar taktik, melainkan sebuah melodi kematian yang harus selalu dimainkan. Ibarat sebuah orkestra besar. Ketika masing-masing pemain memainkan nada, dengan Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney yang dibiarkan berkreasi memainkan melodi. Dan Sir Alex sendiri yang menjadi dirigen pertunjukan. Memadukan nada menjadi sebuah melodi dari sarang kegelapan pada sebuah panggung impian, the theatre of dreams.
Ketika Jose Mourinho datang ke Inggris, satu perkataan sensasional yang terus diingat ketika dia berbicara kepada jurnalis :
“Please don’t call me arrogant, but I’m European Champion and I think I’m a special one.”
Sebuah arogansi dengan pengakuan kehebatan dan kepercayaan diri tinggi dari seorang Jose Mourinho. Dan ketika Jose Mourinho mulai meraih gelar demi gelar bersama Chelsea, maka Sir Alex pun berkomentar mengenai Jose Mourinho :
“I think he sees himself as the young gunslinger who has come into town to challenge the sheriff who has been around a while.”
Menarik ditunggu kelanjutan cerita pertarungan Koboi sekelas Jose Mourinho dengan Sheriff penguasa Sir Alex Ferguson. Dan kita hanya bisa berharap kedahsyatan duel ini sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi dilapangan sehingga pada akhirnya bukan MU atau Inter yang pada akhirnya menang melainkan sepakbola itu sendiri.
04 September 2008
Ramadhon Ini Taring Setan Makin Mengerikan...
23 May 2008
Karena Kami Laki-Laki
Keluarnya Manchester United sebagai juara memang telah diprediksi sebelumnya. Banyak yang mengatakan bahwa Manchester United memang layak menjadi kampiun melihat dari perjalanan Manchester United yang tak terkalahkan sepanjang perhelatan Liga Champion 2007/2008 termasuk menyingkirkan pemegang possession football salah satu calon kuat juara Barcelona di semifinal. Namun kemenangan ini jauh dari definisi kata mudah. Hanya karena ketidak beruntungan seorang kapten dengan daya juang tinggi dalam diri John Terry lah yang mkenyebabkan Manchester United juara. Dan akhirnya tentu saja hanya kepada mereka yang bermental juara layak untuk mengangkat piala.
Seorang wanita dengan kecantikan surga pernah bertanya, apa sih enaknya nonton sepakbola? 22 orang ngerebutin satu buah bola. Tinggal kasih aja satu-satu kan aman. Waktu itu saya hanya bisa menjawab bahwasanya sepakbola adalah olahraga laki-laki karena itu sebagai laki-laki, kami nyaris mendekati hukum wajib untuk menyukai sepakbola. Ga ada alasan yang sedikit logis untuk saya kemukakan atas pertanyaan itu.
Namun setelah menyaksikan partai final Laga Champions dari awal sampai akhir, saya otomatis langsung teringat akan jawaban sesungguhnya atas sebuah pertanyaan tersebut. Sepakbola menghadirkan semua definisi dari sebuah emosi. Ada ketegangan yang memacu adrenalin untuk membuat jantung berdegup kencang. Ada ekspresi kegembiraan Cristiano Ronaldo yang berhasil menjebol gawang Peter Cech. Atau ekspresi dari seorang Frank Lampard yang menunjuk ke langit setelah mencetak gol untuk menghormati almarhumah ibundanya. Paul Scholes dan Owen Hargreaves yang harus mengalirkan darah demi sebuah kemenangan. Kemarahan Didier Drogba atas Nemanja Vidic. Kekecewaan John Terry yang gagal melakukan penalty. Kesedihan Anelka yang penalty terakhirnya menyebabkan Manchester United juara. Ketenangan ekspresi Ryan Giggs dalam mengambil penalty serta tangisan kelegaan seorang Cristiano Ronaldo setelah beban dipundaknya hilang ketika Manchester United juara. Atau ekspresi dari seorang Rio Ferdinand yang sedikit susah dibedakan antar gembira atau marah. Atau ekspresi Joe Cole yang memegang-megang kepalanya tak percaya akan keputusan wasit tidak memberikan bola sudut untuk timnya. Atau Van Der Sar yang mengangkat kedua tangannya keatas sembari mengangguk-anggukkan kepalanya setelah berhasil menggagalkan penalty Anelka.
Inilah pagelaran seluruh emosi dari lapangan sepakbola. Emosi yang kadang terlalu hebat untuk kami tunjukkan. Atau terlalu gengsi untuk kami perlihatkan. Semua ada disini. Disatu pentas permainan yang di Indonesia dinamakan sepakbola. Saya sendiri pun, sebagai fans Manchester United, kemarin ikut-ikutan terjebak dalam definisi emosi. Memukul-mukulkan kedua tangan kedepan saat van der sar berhasil menggagalkan penalty Anelka layaknya seorang juara yang ikut berpesta. Hanya untuk melepas ketegangan dari tengah malam sampe subuh.
Selamat buat Manchester United yang menjadi juara. Dan buat Chelsea, jangan merasa kalah. Permainan kalian adalah permainan sebuah tim juara. Namun tetap pada akhirnya harus ada hanya satu juara Manchester United.
Glory…Glory… Manchester United….
Oh ya sebagai informasi, wanita yang pernah bertanya tersebut sedang mengandung buah cinta kami