24 February 2009

Saat Koboi harus menghadapi Sherrif : Preview Pertandingan Inter vs MU

Liga Champions tahun ini akan menghadirkan sajian menarik dan berkelas. Terutama pada dua pertandingan yang mempertemukan 2 tim dengan kelas yang ditakdirkan untuk menjadi juara. Liverpool vs Real Madrid dan tentu saja Manchester United vs Inter Milan.

Hanya membicarakan pertemuan Inter Milan vs Manchester United akan terasa hambar sehambar sayur kurang terasi karena sudah jelas MU lah yang akan keluar sebagai pemenang namun yang menjadikan partai ini susah ditebak adalah Jose Mourinho sebagai otak yang membuat Inter Milan terlalu berbahaya untuk sekedar diberikan peluang

Masih ingat dalam ingatan ketika Manchester United yang bestatus unggulan berhasil dipecundangi tim yang sama sekali tidak diunggulkan di perempatfinal Liga Champion 2003/2004. Ketika jari tengah Jose Mourinho mengacung ke supporter Manchester United yang masih tidak bisa menerima kegagalan di tangan tim semenjana. Sejarah kemudian mencatat bahwa tim semenjana itu akhirnya menjadi juara Liga Champions 2003/2004 dengan Jose Mourinho dibelakangnya, FC Porto.

Jose Mourinho adalah satu dari sedikit pelatih berkapasitas world class di jagad persepakbolaan dunia. Mungkin hanya Sir Alex Ferguson pelatih yang kualitasnya sedikit lebih baik dibanding Jose Mourinho itupun karena pengalaman yang dimiliki Sir Alex. Lebih dari itu, tidak ada yang bisa menebak mana yang lebih unggul antara Sir Alex vs Mourinho.

Jose Mourinho adalah seorang motivator. Pembangkit semangat dengan cara-cara yang hanya bisa kita temukan pada pilem-pilem holiwut. Masih membekas saat itu ketika Chelsea tidak mampu meraih kemenangan saat pertandingan liga terakhir musim 2006/2007 dan gelar juara akhirnya diraih Manchester United. Ketika para pemain tak dapat menutupi kesedihan. John Terry sebagai kapten tertunduk lesu dan kecewa kehabisan napas, gagal menghadirkan kemenangan. Disaat pemain seharusnya mengutuk ketidak mampuan mereka meraih keunggulan atas lawan. Disaat seharusnya supporter menangisi kegagalan pemain didepan mereka. Tapi apa yang terjadi?? Sekonyong-konyong Jose Mourinho masuk ke lapangan menepuk pundak Terry, memberikan semangat. Mendatangi seluruh pemain Chelsea di lapangan. Membesarkan hati. Lalu datang ke bangku penonton, memberikan bahasa tubuh dengan menunjuk-nunjuk pemain dan memberikan tepuk tangan. Mengajak penonton untuk meng-apresiasi apa yang telah pemain lakukan demi mereka para suporter. Dan ajaib ribuan penonton yang memadati Stamford bridge seperti tersihir. Bunyi tepuk tangan mulai terdengar sedikit, lalu sedikit, dan akhirnya membahana di seisi stadion. Terlihat supporter begitu bangga dengan apa yang telah pemain lakukan. Bahkan tidak sedikit yang mengangguk-anggukkan kepala sembari bertepuk tangan sekeras mungkin. Seakan berfikir bahwa inilah yang seharusnya mereka lakukan. Bahwa ini bukanlah akhir segalanya. Bahwa masih ada kebanggaan yang dapat mereka temukan pada pemain mereka. Dan begitu pun pemain. Mereka yang semula tertunduk lesu kembali menegakkan kepala. Bahwa ini bukanlah kegagalan. Bahwa ini hanyalah sukses yang tertunda. Bahwa mereka, meski telah berjuang hebat namun tetap harus berusaha lebih keras untuk menjadi yang terbaik. Dan hanya satu orang yang mampu menyadarkan mereka akan hal itu. Satu orang yang terlihat berdiri begitu puas memandangi atmosfer Stamford bridge. Satu orang Jose Mario dos Santos Mourinho Felix.

Keberadaan Mourinho selama 3 musim setengah membesut Chelsea memberikan suasana baru di premiership. 2 kali Jose mengangkangi Fergie dengan merajai premiership berturut-turut. Komentar-komentar yang jenius tanpa mengindahkan kaidah rasa alias pedas ditelinga sering terdengar oleh lawan Mourinho tanpa tedeng aling-aling.

Arogansi yang sering diperlihatkan justru menjadikan Mourinho semakin percaya diri akan kemampuannya. Seorang hebat yang sadar betul akan kehebatannya. Dan itu adalah suatu tanda bahaya bagi lawan. Karena sumber utama kehebatan adalah bakat serta arogansi (baca : kepercayaan diri). Dan Mourinho (layaknya Cristiano Ronalo yang menjadi pemain terbaik eropa) memiliki keduanya.

Dan kembali takdir mempertemukan Mourinho dengan Sir Alex Ferguson. Sir Alex Ferguson bukan hanya seorang manajer Manchester United. Dalam 2 dekade terakhir, dia adalah Manchester United itu sendiri. Seorang dedengkot para setan Old Trafford. Ditangan Ferguson, permainan menyerang bukanlah sekedar taktik, melainkan sebuah melodi kematian yang harus selalu dimainkan. Ibarat sebuah orkestra besar. Ketika masing-masing pemain memainkan nada, dengan Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney yang dibiarkan berkreasi memainkan melodi. Dan Sir Alex sendiri yang menjadi dirigen pertunjukan. Memadukan nada menjadi sebuah melodi dari sarang kegelapan pada sebuah panggung impian, the theatre of dreams.

Ketika Jose Mourinho datang ke Inggris, satu perkataan sensasional yang terus diingat ketika dia berbicara kepada jurnalis :

“Please don’t call me arrogant, but I’m European Champion and I think I’m a special one.”

Sebuah arogansi dengan pengakuan kehebatan dan kepercayaan diri tinggi dari seorang Jose Mourinho. Dan ketika Jose Mourinho mulai meraih gelar demi gelar bersama Chelsea, maka Sir Alex pun berkomentar mengenai Jose Mourinho :

“I think he sees himself as the young gunslinger who has come into town to challenge the sheriff who has been around a while.”

Menarik ditunggu kelanjutan cerita pertarungan Koboi sekelas Jose Mourinho dengan Sheriff penguasa Sir Alex Ferguson. Dan kita hanya bisa berharap kedahsyatan duel ini sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi dilapangan sehingga pada akhirnya bukan MU atau Inter yang pada akhirnya menang melainkan sepakbola itu sendiri.

06 January 2009

Hanya Seupil

Kan ceritanya gini. Kemaren kan sholat maghrib di mesjid. Mesjidnya tuh ga jauh2 banget cuma kalo kesana pas abis azan pasti dah ketinggalan 1 rakaat. Karena udah keburu telat akhirnya gw pake motor. Pas nyampe disana ya bener dah telat. Tapi untungnya masih dapet masbuk. Lumayan lah daripada munfarid hehehe…

Setelah selesai sholat seperti biasa pulang bareng jamaah. Yang satu jalan sama gw itu pak nur sama pak aziz. Pak aziz rumahnya di depan komplek, paknur tetangga gw di komplek. Seperti biasa gw sama beliau2 ini ngobrolin seputar permasalahan umat (ceile gayanya…) biar pulang sholat ga terasa jauh dah nyampe rumah dengan disambut dua bidadari cantik jelita.


Lagi-lagi seperti biasa gw baca-baca sambil nunggu azan isya sambil becanda sama anak bini gw (becanda sama bini gw tolong diartikan dengan becanda beneran ya bukan yang iya-iya). Begitu azan isya berangkat lah gw ke masjid sampe selesai isya. Dan pulangnya kembali gw ngobrol dengan pak aziz dan pak nur. Selesai.




Ada yang aneh…?



Kalo jawabannya ga ada yang aneh berarti ente sama bodohnya dengan ana hehehe…


Bagi yang tau keanehan cerita gw diatas, kalian benar. Begitu selesai solat magrib, gw pulang ga pake motor alias motor gw ketinggalan!! Sebegitu bodohnya bahkan sampe gw pulang ke rumah gw ga sadar kalo motor gw ketinggalan!! Bahkan ketika gw isya pas nyampe di pelataran masjid dan ngeliat motor gw, benak gw cuma bilang gini “motornya persis motor gw…” baru pas ngeliat plat motornya motor gw, gw mikir lagi. Ini motor gw. Trus gw nginget lagi, tadi ada ga sebelum isya motor gw dirumah. Karena ga bisa ingat dan emang ga meratiin, gw urutin lagi kronologisnya dengan itungan mundur. Begitu sampe ke sebelum maghrib barulah gw sadar kalo gw maghrib tadi ke masjid pake motor!!!


Astaghfirullah…


Tingkat kelupaan gw terhadap hal-hal semacam ini sudah masuk ke taraf mengkhawatirkan. Sudah berapa kali hape gw tergeletak dimana-mana. Untung aja ga ilang. ya iyalaaaa..hhhh orang hapenya model hape taon jebot gitu. Dah uzur banget. Gedean resiko ketangkep daripada keuntungan maling hape gw.


Dan kemudian sontak gw tercenung. Semuanya berawal dari kebiasaan gw. Kebiasaan gw yang jarang pake motor ke masjid. Ada ibroh yang bisa kita ambil disini. Ada hikmah disana. Jangan pernah mengandalkan kebiasaan. Bayangin aja kalo prinsip kebiasaan kita bawa ke kantor. Alamat hancur lah semuanya. Semuanya di nisbatkan dengan kebiasaan.


“Lo nerima uang dari satker?”

“emang dari dulu kaya gitu”

“kan ada slogan no gratifikasi?

“ah dah kebiasaan”


Itu baru dari segi KKN. Yang lebih parah lagi kalo dari sisi aturan. Bekerja dengan mengandalkan kebiasaan. Memang disatu sisi, kebiasaan menjadikan semuanya lebih praktis. Kita ga perlu ngeliat aturan dulu yang kadang emang susah dicari. Namun di sisi lainnya, kita ga tau apakah yang kita lakukan ini bener atau ga secara hukum. Kita Cuma tau kalo kebiasaannya seperti itu dan jadi ga sadar aturan. Dan ga aware sama peubahan. Padahal pekerjaan itu dinamis. Kalo kita ngandelin kebiasaan maka kita akan jalan di tempat. Ga maju. Gimana Bangsa Indonesia bisa maju kalo diisi oleh orang-orang yang mengandalkan kebiasaan???


Itu hanyalah secuil hikmah yang bisa gw ambil dari kejadian akibat gw mengandalkan kebiasaan. No hard feelings. Kalo ada yang masih mengandalkan prinsip kebiasaan hingga ga aware sama perubahan gimana?



“Ah gapapa, itu hanya seupil kebodohan”.

09 November 2008

09 September 2008

Awal Cahaya Kebahagiaan

Banyak yang mengatakan kalo gw telah mengambil langkah penuh resiko tanpa pikir panjang saat gw memutuskan untuk mendampingi bini gw melewati hari-hari kehamilan sampai waktu melahirkan tanpa harus mengabaikan pekerjaan gw di kantor. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan komitmen seperti itu. Malah menjadi sesuatu yang sudah seharusnya. Namun yang jadi sedikit masalah adalah kantor gw itu lokasinya agak jauh dari Palembang dimana keluarga kami bermukim. "Hanya" mengarungi dua gugus pulau untuk kemudian menaiki bis selama kurang lebih 12 jam barulah sampe ke tempat gw ngantor. Sintang. Sebuah kota kecil di wilayah kalimantan barat yang dibelah dua aliran sungai kapuas dan melawi. Otomatis lah kalo gw mau dua-duanya ga terbengkalai, gw harus ngebawa kerjaan gw ke Palembang (which is ga mungkin...) atau ngebawa bini gw ke sintang. dan jelas pilihan terakhirlah paling logis. Dan ini bukanlah sebuah langkah ketergesa-gesaan, tanpa pemikiran yang fokus ataupun tanpa perenungan mendalam. Sejak awal gw tau bini gw hamil sampe sekitar 7 bulan usia kehamilan adalah masa-masa pergelutan gw dengan pemikiran gw. Antara keinginan gw untuk selalu berada disamping bini gw dan tanggung jawab gw untuk memberikan yang terbaik untk kelahiran dan keselamatan anak bini gw.

04 September 2008

Ramadhon Ini Taring Setan Makin Mengerikan...

Judul yang sedikit propokatip ya? Sebetulnya postingan kali ini ga ada kaitannya dengan puasa sedikitpun. Cuma dibilang ga ada kaitannya sama sekali ya ga juga soalnya suasana nya emang lagi bulan Romadhon.
Gw sekedar mengomentari kesuksesan tim sepakbola jagoan gw, ya apalagi kalo bukan si setan dari Manchester (ngambil kalimatnya si buta dari goa hantu), Manchester United. Pada detik-detik transfer akhir premiere league yaitu bulan Romadhon ini, MU berhasil mendatangkan striker bertampang pembunuh bernama Dimitar Berbatov. Tampang nya emang khas tampang daerah eropa bagian sana. Dingin... mematikan... Dan itu bukan cuma tampangnya, permainan Berba di lapangan pun sedingin ekspresi wajahnya dan tentu saja, mematikan. Tipikalnya sedikit sama dengan Nistelrooy dulu namun kalo Nistelrooy terkesan sangar, Berba justru sebaliknya, dingin. Kalo Nistelrooy digambarkan sebagai Jason Voorhees maka Berba diibaratkan sebagai Anthony Hopkins yang memerankan Hannibal Lecter. Sama-sama mematikan namun dengan style yang berbeda. Membayangkan Wayne Rooney si bengal penuh talenta, Carlos "scarface" Tevez muka sangar dengan keindahan permainan Amerika latin, dan tentu saja pemuda jenius yang sadar dengan sepenuhnya bahwa dirinya adalah definisi kehebatan itu sendiri, Cristiano Ronaldo bermain bersama Dimitar Berbatov adalah jaminan kualitas dan gol pada sebuah tim sepakbola. Luar binasa bukan? Kita menyaksikan 4 macam model penyerang dahsyat yang mewakili gaya yang berbeda pada satu tim!! Tidak salah kalo kemudian gw mengatakan bahwa Romadhon ini, taring setan Manchester United makin mengerikan....

19 August 2008

Merah Putih Yang Berkibar di Halaman Rumah Gw

Sedikit aneh saat gw mengibarkan merah putih di halaman rumah dinas yang gw tempati. Selama ini gw ga pernah turun langsung mengibarkan merah putih, dimanapun. Di rumah gw, Sang Jenderal yang mengibarkan. Di kos-kosan, bapak kos gw yang masang. Di kantor juga bukan gw yang sibuk menaikkan. Di sekolah apalagi, dulu pas masih SD suara gw terlalu merdu untuk di sia-siakan jadi kalo ada upacara, gw biasanya ditaroh kalo ga baca UUD 1945 atau baca doa (bilang aja tinggi lo ga kena buat jadi pengibar, titik ).Jadi ketika kemaren gw ngeliat pada tanggal 17 Agustus pagi didepan rumah gw ga ada merah putih yang berkibar kok rasanya aneh. Langsung aja gw nyari bendera ke pasar, ketemu. Trus ngeliat kayu di samping rumah manci ga kepake. Langsung gw ikat bendera dan gw dirikan tiang nya untuk kemudian menyaksikan merah putih yang berkibar di halaman rumah gw.



Dibilang nasionalis sih ga juga. Kalo kata iklan sih, orang punya pandangan berbeda mengenai pengertian nasionalis itu sendiri. Ada yang bilang vokal tapi bertanggung jawab, jujur, dsb. Bahkan gw ga bisa mendefinisikan nasionalis versi gw sendiri selain dari definisi yang ada di buku PSPB. Kadang juga gw masih make bahasa sok inggris. Atau make bahasa Indonesia juga masih belum bisa bener. Jadi kalo ada yang bilang gw nasionalis, tolong definisikan dulu nasionalis.



Trus kenapa repot2 ngibarin bendera? mending tidur, toh kalo ga dipasang juga ga da yang marah. Kalo ada perang mustahil kita ga ikutan misal kayak jaman dulu melawan penjajah.

Kenapa?



Gw cuma menghargai para pahlawan yang meneteskan darah demi terkibarnya merah putih di seluruh nusantara. Dan dari pahlawan-pahlawan itu, gw berani menjamin, banyak ulama-ulama Indonesia yang turun langsung mengorbankan semangat jihad ke medan perang.



Kalo gw mengartikan merah putih itu sendiri seperti saat SD dulu, merah artinya berani dan putih artinya suci dalam artian bahwa kemerdekaan kita diraih dengan tawakal. Merah itu berani menggambarkan kerja keras dan usaha serta putih itu suci menggambarkan jiwa spiritualitas kita dengan doa. Jadi kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan usaha dan doa.



Gw inget dulu pas gw masih magang kan ada upacara bendera pas 17 agustus. Gw dan rombongan temen2 ga ikut upacara. Alasannya sih simpel, karena males. Tapi kemudian ada temen gw yang ngelapor kalo ada temennya temen gw itu juga ga ikut upacara (bisa dicerna kan kalimat gw). Hanya alasannya bukan karena males tapi karena ga mau hormat ke bendera.



Gw pikir alasannya sedikit tidak logis ya. Apapun alasan dibalik tidak mau nya mereka hormat ke bendera, itu tidak bisa dibenarkan. Bendera itu bisa berkibar dan berdiri tegak didepan rumah kita atau pada upacara bendera bukan dengan mengorbankan uang puluhan miliar, bukan itu. kita disini bicara mengenai darah pejuang bung!! tetesan yang mengalir demi berkibarnya merah putih di seluruh nusantara. Kita tidak bicara pengorbanan materi, bukan itu. Kita disini bicara mengenai nyawa mujahid bung!! Berapa banyak anak-anak yang menjadi yatim karena kehilangan orang tuanya dalam perang. Berapa liter air mata ibu yang tumpah karena kehilangan buah hatinya untuk memperjuangkan merah putih ini. Sangat disayangkan karena mereka yang ga mau hormat ke bendera itu mereka yang dihormati karena dilihat sekilas dari janggut yang menempel di dagu mereka seharusnya adalah pemuda-pemuda yang memiliki pengetahuan agama cukup mumpuni. Dan tidak menghormati merah putih adalah sangat menyakitkan bagi ulama-ulama dan pejuang yang telah gugur membela tanah air. Seolah-olah apa yang mereka lakukan itu ga ada artinya.



Kalaupun akhirnya Republik Indonesia tidak berjalan sebagaimana cita-cita para pahlawan. Jauh melenceng dari apa yang dulu pernah dibayangkan, adalah tugas kita untuk meluruskan cita-cita perjuangan. Adalah PR bagi kita untuk menjadikan merah putih menjadi layak buat kita hormati menurut idealisme kita masing-masing.



Jadi dengan adanya bendera di halaman rumah anda itu artinya anda seorang nasionalis? kembali gw tegaskan, adanya merah putih yang berkibar di halaman rumah gw tidak otomatis menunjukkan kalo gw seorang nasionalis. gw hanya mensyukuri kemerdekaan yang di proklamasikan pada hari Jumat Romadhon. Mensyukuri apa-apa yang telah susah payah diperjuangkan generasi terdahulu untuk kita nikmati hasilnya meski pada kenyataannya kemerdekaan ini belum merata ke seluruh nusantara.



Jika kemudian ada yang bilang gw nasionalis gimana...???







Yah... Dibilang nasionalis juga ga ada salahnya

07 August 2008

Surat Pertanggungjawaban Babusekaki

Dua bulan terakhir ini blog gw seperti sedang mengalami lesu darah. Cuma ada satu postingan sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa tanggung jawab gw terhadap babusekaki patut untuk kembali dipertanyakan. Namun tentu saja dalam setiap kesalahan dan kelalaian selalu dan selalu diiringi oleh pembelaan dan alasan. Meski terkadang alasan dan pembelaan tersebut agak sedikit kurang relepan dan siknipikan.



Salah satu pembelaan gw adalah datangnya satu bidadari lagi dalam kehidupan gw. kehadirannya membuat gw memiliki dua bidadari dalam kehidupan gw. Dan perlakuan terhadap bidadari tentu saja membutuhkan manusia dengan mental malaikat. Ditambah lagi dengan adanya dua bidadari dalam kehidupan gw. Dan gw jelas sekali bukan malaikat. Bahkan tiap hari gw ga pernah lepas dari yang namanya maksiat. gw hanya lah abu dari puntung neraka kalau lah tidak karena rahmat dan ampunan Allah yang lebih banyak dari buih di lautan. Karena itu lah konsentrasi gw penuh tercurah buat dua bidadari gw. Jangan kan buat blog, pekerjaan gw pun sedikit terbengkalai karenanya. Alhamdulillah, Laporan Keuangan Semester I yang menjadi tanggung jawab gw telah selesai pada waktunya dan dikirim ke kanwil dan kantor pusat.



Untuk sementara segini dulu kabar dari babusekaki. Gw sebenernya pengen nulis cerita kelahiran Fariha tapi nanti aja lah ya. Gw skrg masih capek mental dan pisik abis perjalanan terakhir gw. Skrg gw pengen mosting catatan-catatan gw yang udah ke simpen tapi belum sempat gw publikasikan ke khalayak. Nantikan ya

07 July 2008

Cahaya Kebahagiaan Pertama : keajaiban yang kembali hadir

Telah Lahir Putri Pertama Kami



NUR FARIHA AWWALIYYAH



Kamis 3 Juli 2008 pukul 11.40 WIB

Cahaya Kebahagiaan Pertama : keajaiban yang kembali hadir

Telah Lahir Putri Pertama Kami NUR FARIHA AWWALIYAH Kamis 3 Juli 2008 pukul 11.40 WIB

26 June 2008

Adalah Maha Karya Terbesar Abad Ini

Di postingan gw sebelumnya, gw cerita mengenai pindahan. Dan pindah rumah, jelas ga langsung ngangkut-ngangkut barang buat mindahin kerumah baru kan? Ada proses disana. Ada kegiatan nebas hutan di belakang rumah, bersih-bersih rumah, buat seng penutup dapur, ngecet dapur yang gw ubah jadi kamar, nampal lantai semen yang bolong-bolong soalnya kadang ada makhluk-makhluk aneh binti ajaib yang keluar dari sana, kasian bini gw yang bakalan sering teriak-teriak ga jelas kalo lubangnya ga ditutup. Trus kasian anak gw yang masih dalam kandungan kalo ikut-ikutan kaget gara-gara maknya hehehe…

Nah… gw beres-beres itu pasti butuh bahan-bahan materiil (dan uang tentunya). Setelah gw selesai sama rumah, ternyata ada sedikit sisa-sisa materiil yang sayang kalo dibuang gitu aja. Mengingat uang yang keluar akibat pengadaan barang-barang tadi, sontak gw mikir (mikir???), bagusnya dibikin apa ya…? Akhirnya setelah gw melakukan diskusi yang lumayan seru sama bini gw (sebenernya sih emang gw yang pengen bikin, bini gw cuma nurut aja), diputuskan bahwa gw bakalan bikin rak buku. Dan tentu saja dengan pedenya gw bilang ke bini gw (berdiri dengan angkuh sambil menunjuk keatas dengan dilatar belakangi sinar yang ga jelas asal-usulnya sementara sayup-sayup terdengar suara musik jengjengjeng!!!) kalo rak buku buatan gw akan jadi sebuah masterpiece, maha karya terbesar abad ini hehehe…

Dulu gw beranggapan bahwa kualitas seorang laki-laki dinilai dari kerja keras serta ketrampilannya dalam hal-hal kecil di rumah seperti paku memaku, bongkar-membongkar, tebas menebas, dan lain sebagainya (mungkin karena dulu jenderal panutan gw sering melakukan hal-hal kecil tadi dirumah jadi kebawa sama gw sampe sekarang). Salah satunya adalah ngebuat rak buku itu tadi. Sebenernya bini gw sih bilang kalo sebaiknya rak bukunya beli aja yang plastik daripada capek-capek buat. Mendengar bini gw ngomong gitu, semangat gw semakin terlecut! Darah gw semakin terbakar! Gw akan ngebuktiin ke bini gw kalo laki-laki yang ia nikahi bukan laki-laki biasa (jadi inget siti nurhaliza bukan cinta biasa...............a.......a.......a.......). Gw sadar kalo bini gw bilang gitu ga bermaksud apa-apa cuma ga pingin gw capek trus sakit. Tapi alam bawah sadar gw menterjemahkannya sebagai keraguan dari bini gw kalo gw akan bisa ngebuat rak buku. Dan gw bisa memahami soalnya beberapa waktu lalu pas belum pindah gw juga pernah bilang kalo akan bikin jemuran dan hasilnya nihil hehehe…

Sejak saat itu setiap hari sabtu-minggu, gw pun mulai menyusun planning buat membuat sebuah maha karya tadi. Tapi karena gw minder, takutnya udah sibuk-sibuk eh ternyata rak buku bikinan gw ga sesuai yang diharapkan, bukan sesuatu yang patut dibanggakan (dan seringnya emang gitu) gw mengambil sebuah keputusan bijak. Gw beraktivitas dibelakang rumah, (ketutup seng yang gw bilang tadi) biar aman dari jangkauan mata tetangga-tetangga hehehe…

Klotak…klotak…. (suara gw maku), sekkesekkesekkesekke… (suara gw ngegergaji), hahahahaha…. (suara jin sedang ngetawain gw). Pokoknya gw serius banget. Ga ada kata menyerah. Bini gw sampe senyum-senyum aja ngeliatin gw. Kembali alam bawah sadar gw menterjemahkannya sebagai keraguan atas kapasitas gw. Dan semangat gw kembali terlecut! Darah gw semakin terbakar!. Akhirnya setelah berminggu-minggu dikerjakan, dengan mengingat-ingat transfer ilmu yang gw dapatkan dari Dia Yang Merupakan Anugerah Terbesar KPPN Sintang, selesai sudah kerja keras gw.

Namun belum sempat melakukan penyelesaian akhir dengan melakukan pengecatan, karya gw terlihat oleh ibu angoi. Dan tanpa ada sedikit prolog, beliau langsung nanya,

”mo bikin rak sepatu mas?”



terlihat jutaan tombak meluncur dari berbagai arah yang langsung menghujam jantung gw, jlzeeeep… (suara tombak tadi)



dan kemudian otak sama bibir gw seperti kehilangan konektivitasnya. Otak gw bilang kalo rak itu buat buku bukan buat sepatu, cuma bibir gw hanya membentuk seringai yang gw artiin sebagai senyum. Senyum kepaksa kali ya (bisa dibayangin kan?)

Tapi gw jelas ga patah semangat kan. Malah semangat gw kembali terlecut! Darah gw semakin terbakar! (capede…) Esoknya gw langsung mengambil kuas dan langsung mengecat rak tersebut.

Selesai sudah misi gw ngebuat rak buku. Begitu bini gw liat, ada pancaran sinar dimatanya. Pancaran yang gw ga tau apa artinya hanya ketika gw melihatnya, ada aura kesejukan di hati.



Dan pada akhirnya, hanya itu yang gw butuhkan…